Jumat, 03 Desember 2010

Warga Lombok Diserang Diare, 15 Orang Meninggal

TINOMBO– Warga Desa Lombok, Kecamatan Tinombo, diserang wabah diare muntaber sejak Oktober hingga November tahun ini. 15 orang diantaranya telah meninggal dunia.
Kepala Puskesmas Ampibabo, dr. Priyadi, menyebutkan, 15 orang warga Desa Lombok yang meninggal ini terdiri dari enam orang di Dusun Patingke, tujuh orang di Dusun Nanaan dan dua orang di Dusun Bobontolan.
Selain 15 warga Desa Lombok, satu orang warga Desa Ogoalas juga meninggal dunia setelah diserang diare.
“Dua orang yang meninggal di Dusun Bobontolan dan satu orang di Desa Ogoalas, terjadi dua hari terakhir ini,” kata dr. Priyadi, kepada Radar Parimo, Minggu (28/11).
Priyadi menuturkan, wabah diare ini sebenarnya sudah mengkhawatirkan sejak sebulan terakhir.
I melihat, warga yang terserang wabah diare itu akibat beberapa hal seperti mengkonsumsi air yang tidak bersih.
“Air bersih memang menjadi masalah di desa ini,” katanya.
Ia mengatakan, pihaknya sudah turun sebanyak delapan kali ke Desa itu untuk memantau kondisi warga setempat. Bahkan pihak Dinas Kesehatan Kabupaten dan Propinsi, menurut dia, sudah dua kali turun ke Desa tersebut.
“Hari ini (kemarin, red) tim kesehatan kembali turun untuk mengambil sampel air di desa itu untuk diperiksa di laboratorium,” ujarnya.
Sementara, Camat Tinombo, Sabaruddin Kilis, ketika dikonfirmasi via telepon, mengaku sudah turun langsung ke lapangan untuk melihat kondisi warganya yang terserang diare di beberapa dusun di Desa Lombok.
Sabarudin mengakui, salah satu faktor yang menyebabkan warganya itu diserang diare karena masalah air bersih.
“Kami bersama tim kesehatan sudah menyampaikan kepada warga di desa itu agar memperhatikan masalah kebersihan lingkungan terutama menyangkut air bersih,” kata Sabaruddin.
Ia mengungkapkan, banyaknya warga Desa Lombok yang meninggal dunia setelah diserang diare karena lambat mendapat pelayanan kesehatan.
Hal itu disebabkan, akses jalan di desa itu sangat sulit dilalui. Betapa tidak, jalan di desa itu hanya setapak. Belum lagi, jarak tempuh menuju Desa induk kata dia, cukup jauh. Kurang lebih mencapai lima kilometer.
“Jadi kalau ada warga yang tiba-tiba diserang diare, lantas mau turun ke desa induk untuk berobat, jelas butuh waktu lama karena jalan yang dilalui sangat sulit. Kalau misalnya kondisi warga yang diserang diare itu sudah sangat parah, maka bisa saja tidak tertolong karena lambat mendapat pelayanan kesehatan akibat medan yang mau dilalui sangat sulit. Saya saja harus jalan kaki sepanjang tiga kilometer ketika melihat kondisi warga di desa itu karena jalannya tidak bagus,” tuturnya.
Ia mengatakan, warga Desa Lombok sangat mengharapkan dapat dibangunkan sarana infrastruktur berupa jalan yang memadai. Apalagi, jumlah warga di desa itu cukup banyak, yakni mencapai 1000 orang lebih.
Ia berharap, kondisi kesehatan termasuk pembangunan jalan di desa itu mendapat perhatian serius dari pemerintah daerah (Pemda) dan anggota DPRD.
“Saya akan melaporkan masalah ini kepada Pemda dan anggota DPRD hari Senin. Kita berharap, pembangunan jalan di desa ini dapat diprioritaskan pada tahun 2011,” harapnya. Salah seorang warga Desa Tinombo, Ahmad yang mengaku beberapa kali ke desa Lombok, juga mengharapkan, Pemda dan anggota DPRD dapat menyikapi masalah itu secara serius.
“Jangan cuma sibuk baku bantah masalah kasus suap. Lebih baik perhatikan masalah di Desa Lombok itu. Jangan sampai makin banyak lagi yang meninggal. Kasian,” ujarnya mengharapkan. (wan)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar